Konflik antarsuku yang terjadi di Jayawijaya, Papua Pegunungan, telah mengakibatkan dua orang tewas dan sejumlah lainnya terluka. Kepolisian Resor Jayawijaya, bersama Brimob Kompi IV Batalyon B Wamena, terus berupaya untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dari konflik ini. Kapolres Jayawijaya, AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk melerai perang antarsuku yang telah memakan korban jiwa.
Perang suku ini bermula dari pemalangan jalan yang dilakukan oleh masyarakat suku Lanny Jaya pada 12 Juni 2024, setelah terjadinya kecelakaan lalu lintas di Kampung Megapura, Distrik Asolokobal. Kecelakaan tersebut memicu bentrokan antara kelompok masyarakat Lanny Jaya dan masyarakat dari suku Hubla (Kurima) serta gabungan suku lainnya. Akibatnya, tiga orang kehilangan nyawa dalam insiden tersebut.
Untuk meredakan ketegangan, diadakan musyawarah adat yang menghasilkan kesepakatan denda adat sebesar Rp 2 miliar dan 30 ekor babi. Namun, pada 6 Mei 2026, kelompok Lanny Jaya menolak kesepakatan tersebut, menganggap denda yang dibayarkan tidak sesuai. Penolakan ini memicu kembali ketegangan yang berujung pada serangan oleh kelompok Lanny Jaya.
Serangan tersebut dilancarkan dengan melintasi Jembatan Gantung Wouma, yang akhirnya putus karena kelebihan beban. Insiden ini menambah kemarahan kelompok Lanny Jaya dan berujung pada bentrokan yang lebih besar. Pada 15 Mei 2026, perang suku terjadi di beberapa lokasi seperti Jalan Diponegoro dan Pasar Wouma, mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan material yang signifikan.
Tak hanya itu, pertikaian juga terjadi antara suku Dani (Wamena) dan suku Lanny (Tiom) di Kampung Muai, Distrik Hubikiak. Akibat dari konflik ini, tercatat 21 orang menjadi korban, termasuk dua orang yang meninggal, empat luka berat, dan 15 luka ringan. Selain itu, sebanyak 609 warga terpaksa mengungsi ke Polres Jayawijaya akibat situasi yang tidak aman di daerah tersebut.
Kapolres Made menegaskan perlunya upaya berkelanjutan untuk menstabilkan situasi dan mencegah terjadinya lebih banyak korban di masa depan. Masalah ini membutuhkan perhatian serius dari semua pihak untuk menghindari konflik serupa di masa mendatang.