Anies Kritik Pemerintah Terkait Melemahnya Nilai Rupiah

Anies Baswedan kritik pemerintah terkait nilai rupiah melemah

Mantan Gubernur DKI Jakarta, , mengungkapkan keras terhadap dalam menangani tantangan , terutama ketika nilai tukar melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada tanggal 18 Mei 2026, nilai tukar rupiah menembus angka Rp 17.667 per dolar AS, menciptakan kekhawatiran akan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin memburuk.

Anies menjelaskan bahwa saat ini rupiah berada pada titik terendah dalam sejarah. Hal ini berimplikasi pada banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk meningkatnya harga kebutuhan pokok, menyusutnya lapangan kerja, melemahnya daya beli rumah tangga, serta penggerusan tabungan. “Dampak dari kondisi ini sangat nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat,” tegasnya dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram-nya @aniesbaswedan pada Rabu, 20 Mei 2026.

Menurut Anies, di tengah situasi yang penuh tantangan ini, publik dan pasar membutuhkan kepastian yang hanya bisa dihasilkan melalui transparansi dan kejujuran dari pemerintah. Namun, ia menilai bahwa pemerintah cenderung menyembunyikan informasi yang tidak menguntungkan dan hanya menampilkan data yang positif. “Data yang baik saja yang ditampilkan, sementara yang buruk justru ditutupi,” kritiknya.

Mantan calon presiden ini juga mengomentari pernyataan sejumlah pejabat negara yang dianggap meremehkan kondisi genting ini. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pun dinilai seringkali tidak konsisten, yang justru membuat kebingungan di kalangan investor. Banyak dari mereka yang memilih untuk menahan investasi atau bahkan menarik diri dari pasar.

Di sisi lain, Anies menyoroti ketidakpekaan pemerintah yang masih sibuk dengan agenda yang bukan prioritas saat rakyat diminta untuk berhemat. “Ada pemborosan di tingkat atas, tapi pengetatan di tingkat bawah. Ini menunjukkan kurangnya kepekaan dari pemerintah,” ungkapnya.

Menurut Anies, kondisi perekonomian yang buruk saat ini tidak bisa disangkal. Banyak ekonom dan lembaga keuangan internasional telah memperingatkan tentang situasi yang berpotensi memburuk jika tidak segera diatasi. Ia berpendapat bahwa mustahil semua ekonom sepakat tanpa alasan yang kuat. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk mengakui kenyataan dan bersama-sama mencari solusi yang tepat.

“Saya mengajak pemerintah untuk berhenti memberi ilusi kepada publik. Buka data apa adanya, sampaikan permasalahan dengan jujur, dan berikan arah kebijakan yang jelas serta konsisten,” ujarnya. Anies juga mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi berbagai risiko yang mungkin muncul, termasuk tantangan ekonomi, cuaca ekstrem, dan ketegangan geopolitik yang semakin meningkat.

“Kita harus tetap optimis dapat menghadapi semua ini, asalkan kita melakukannya dengan penuh kesadaran, bukan dengan ilusi,” tambahnya.

Sebelumnya, dalam situasi rupiah yang melemah hingga ke level 17.600 per dolar AS pada 15 Mei lalu, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa penurunan nilai tukar rupiah tidak berdampak langsung bagi masyarakat di desa. Ia meminta agar masyarakat tidak terlalu khawatir dan menegaskan bahwa kondisi Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lain, terutama dalam hal ketahanan pangan dan energi.

Prabowo juga menanggapi dengan tenang isu tersebut, menekankan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan mata uang asing dalam kehidupan sehari-hari mereka. “Rupiah begini, dolar begitu. Rakyat di desa tidak menggunakan dolar, bukan?” ujarnya saat meresmikan koperasi desa merah putih di Nganjuk, Jawa Timur, pada 16 Mei 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *