TEMPO.CO, Jakarta – Sebuah unggahan di akun Facebook pada 8 Mei 2026 mengaitkan hantavirus dengan agenda Great Reset 2030, yang dianggap sebagai kontrol populasi global. Unggahan tersebut menyatakan bahwa kemunculan hantavirus di lokasi-lokasi tidak biasa, seperti kapal pesiar mewah atau daerah terpencil yang dikunjungi wisatawan kaya, bukanlah fenomena alami melainkan eksperimen bioterorisme tingkat rendah. Hantavirus diklaim sengaja disebarkan untuk menciptakan ketakutan massal, mendukung penggunaan paspor digital, dan bahkan merusak pertanian lokal.
Apakah narasi bahwa hantavirus merupakan bagian dari agenda Great Reset 2030 ini dapat dipertanggungjawabkan? TEMPO melakukan wawancara dengan epidemiolog dan menyelidiki laporan media yang kredibel. Hasilnya menunjukkan tidak ada bukti ilmiah yang mendukung narasi bahwa hantavirus adalah senjata biologis, alat pengendalian populasi, atau bagian dari agenda “Great Reset”.
Epidemiolog Dicky Budiman menyatakan bahwa hantavirus telah ada selama puluhan tahun dan bukan virus yang baru direkayasa. “Hantavirus sudah ada sejak Perang Korea; ini bukan bagian dari agenda baru 2030,” jelas Budiman saat dihubungi TEMPO pada Senin, 18 Mei 2026. Dicky menjelaskan bahwa hantavirus diklasifikasikan sebagai zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan terutama terjadi melalui paparan urine, feses, atau saliva rodentia yang terinfeksi.
Kemunculan hantavirus dihubungkan dengan faktor ekologi seperti perubahan iklim, deforestasi, urbanisasi, perubahan habitat rodentia, serta peningkatan kontak antara manusia dan hewan. Polanya mirip dengan penyakit zoonosis lainnya seperti Ebola, infeksi virus Nipah, dan demam Lassa.
Menurut Dicky, klaim bahwa hantavirus merupakan bentuk bioterorisme tingkat rendah secara ilmiah tidak logis. Secara teknis, hantavirus bukanlah senjata biologis yang efektif karena penularan dari manusia ke manusia sangat tidak efisien, virus ini tidak stabil di lingkungan, penyebaran massal sulit dikendalikan, dan produksi virus ini sangat kompleks.
“Hantavirus menyebar melalui aerosol dari urine atau feses rodentia, bukan melalui udara dengan cara yang stabil, seperti senjata biologi strategis. Jika ingin mengurangi populasi dunia, virus dengan tingkat penularan rendah tidak efektif,” ujar Dicky, seorang ahli Keamanan Kesehatan Global.
Virolog dan dosen Universitas Airlangga, Arif Nur Muhammad Ansori, menambahkan bahwa kemunculan kasus di lokasi tertentu terjadi karena pergeseran populasi rodentia, distribusi logistik, urbanisasi, dan perubahan lingkungan. “Pencegahannya cukup sederhana. Ini melibatkan pengendalian populasi tikus, menjaga kebersihan lingkungan, menyediakan ventilasi yang baik, dan memberikan edukasi kesehatan berdasarkan bukti ilmiah,” ungkap Arif.
Klaim yang mengaitkan hantavirus dengan paspor kesehatan digital, chip, atau aplikasi pelacakan terintegrasi dengan sistem perbankan juga tidak memiliki dasar fakta. Tidak ada kebijakan global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mewajibkan chip implantasi atau identifikasi biologis permanen. Organisasi ini juga tidak memiliki kewenangan untuk memaksa negara memasang chip pada warga negaranya.
Tuduhan bahwa hantavirus digunakan untuk menghancurkan pertanian lokal dan memonopoli pasokan makanan global juga tidak terbukti. Pengendalian rodentia telah menjadi langkah keamanan bio pertanian standar selama puluhan tahun. “Tidak ada bukti bahwa pemerintah atau dunia menghancurkan pertanian lokal karena hantavirus,” tegas Dicky.
Menurut situs resmi WHO, infeksi hantavirus dapat menyebabkan berbagai penyakit serius dan bahkan kematian. Di Amerika, virus ini memicu sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), yang merupakan penyakit pernapasan parah dengan tingkat kematian mencapai 50 persen. Sementara itu, di Eropa dan Asia, hantavirus menyebabkan demam hemoragik dengan sindrom ginjal (HFRS). Gejala pada manusia biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virus. Gejala awal termasuk demam, sakit kepala, dan nyeri otot.